Indah
Pada Waktunya
Cerpen
karya Cindy Pradita Sari
Entah
apa yang membuatku kemari, tidak seharusnya aku disini, tapi kata hatiku yang
menyuruhku untuk datang ke tempat ini. Tidak ada siapapun disini kecuali aku, di
sekelilingku hanya ada alat-alat musik yang tidak diletakkan pada tempat yang
seharusnya, gitar yang berada di lantai karpet ini misalnya, “mungkin anak-anak
eskul musik sedang beristirahat sekarang
dan akan kembali untuk melanjutkan
kegiatannya dengan alat-alat musik itu jadi sengaja belum di bereskan” pikirku
dalam hati sambil meletakkan gitar itu
di tempat semestinya. Tiba-tiba aku mendengar suara sebuah buku yang terbuka,
aku menghampiri buku itu. Angin masih membukanya lembar demi lembar hingga
berhenti di suatu halaman ketika aku berada tepat di depannya. Aku mengambil
buku itu dengan tangan kananku, kedua mataku langsung disambut dengan sebuah gambar
bus dengan tinta warna biru di sudut halaman, kemudian aku membaca tulisan
disampingnya,
“Ada yang
bilang, Cinta itu seperti menunggu bus. Menunggu bus dan cinta, sama-sama
menunggu sesuatu yang diharapkan untuk segera datang. Walaupun aku merasa cinta
ini sepertinya mustahil, tapi aku masih tetap berharap, tak peduli berapa tahun
harus menunggu, menunggu cinta yang datang dari dia yang selalu saja
bisa membuatku terpana ketika aku melihatnya. Dan yang lebih mengasyikkan lagi
adalah, dia akan tampil satu panggung denganku pada saat...”
Aku tidak melanjutkan bacaanku, bagian atas halaman yang bertuliskan tanggal
hari kemarin, hari Minggu 2 September 2012 membuatku sadar kalau buku itu
adalah sebuah buku harian.
Kata hatiku
lagi-lagi seakan memintaku untuk melakukan sesuatu, kali ini aku seperti
diperintah untuk membaca lebih lanjut buku itu, lalu aku berpindah halaman
menuju halaman kedua dari sampul buku itu. Tertanggal 20 Agustus 2012, aku pun
mulai membacanya lagi,
“Namanya Rio, dia bagaikan bintang di
sekolah, bayangkan saja, siapa yang tak kenal Rio? Kepintaran, wajah manis,
dan sifat humorisnya itu selalu membuatnya menjadi idola setiap siswi di
sekolah termasuk aku. Aku memang belum lama mengenalnya, tapi aku tidak bisa
membayangkan betapa aku mengaguminya.”
Aku
terkejut setelah membaca kalimat-kalimat ini dan bertanya pada diriku sendiri.
Mengapa terdapat namaku disini? Mengapa dia sangat mengaggumiku? Aku penasaran
siapa pemilik dari buku harian ini, dengan diiringi rasa penasaran aku lalu
melanjutkan membaca lagi
“Aku hanya dapat
memandangnya dari kejauhan. Dan aku pun hanya dapat berharap kakak kelas yang
lebih tua setahun dariku itu sudi untuk memandangku walaupun hanya sedetik.
Entah sejak kapan aku mulai mengidolakannya. Aku sadar tidak mudah untuk
membuat hatinya luluh kepadaku, Aku hanyalah seorang gadis biasa, sedangkan
Rio, dia bagaikan pangeran impian setiap siswi di sekolahku. Ya Tuhan, Aku
tidak tahu apa yang harus dilakukan gadis sepertiku, tapi aku akan tetap
optimis untuk tidak menyerah.”
Belum
banyak halaman yang terpakai, setelah kuhitung hanya ada delapan lembar yang
terisi tulisan dan 2 lembar berisi penuh dengan gambaran tangan yang cukup
bagus, sepertinya pemiliknya jarang menulis buku harian ini, dan sepertinya
juga buku ini adalah buku baru. Buku kecil namun tebal bersampul teddy bear
ungu ini tidak bertuliskan nama pemiliknya, hanya ada tulisan tangan suatu
kalimat yang terdiri dari 2 kata bertuliskan huruf Korea di halaman depan,
mungkin inilah namanya. Huruf-huruf yang ku perhatikan dengan seksama itu
seakan bersarang dipikiranku, walaupun begitu tetap saja aku tidak tahu
bagaimana cara membaca tulisan itu, tapi aku benar- benar merasa penasaran. Tanpa
pikir panjang aku pun memotretnya dengan kamera yang ku gantungkan di leherku, agar
nanti aku dapat mencari tahu bagaimana cara membaca tulisan seperti itu dengan
bertanya pada sahabatku Ajeng, aku yakin dia pasti mau membantuku. Dengan sifat
kejahilanku yang tak pernah hilang aku memotret kesepuluh halaman itu dengan
harapan aku dapat membaca catatan harian seorang pengagum rahasiaku sebelum
pergi tidur setiap harinya. Aku lalu segera pergi dari situ sebelum ada orang
yang memergokiku berbuat jahil seperti ini. Di persimpangan tangga sebelah
ruang musik aku hampir saja bertubrukan dengan seorang gadis dengan wajah
oriental dan berambut pendek sebahu karena aku terlalu asyik melihat kameraku,
dia hampir jatuh karena aku dan dengan reflek aku memegang tangannya lalu
menahan bahunya dengan tanganku agar dia tidak jatuh. Aku melihat wajahnya yang
berada sekitar 10 centimeter didepan mataku, sepertinya dia tidak asing bagiku.
“Mengapa rasanya berbeda ketika berada di dekatnya? Aku merasa nyaman di
dekatnya, seakan bumi bergerak melambat saat aku bersamanya. Ahh, mungkin ini
hanya perasaanku saja karena kaget.” kataku dalam hati. Lalu aku melepaskan
genggaman tanganku. Setelah mengucapkan
terimakasih dia lalu pergi dengan sedikit berlari menuju ruang musik. Aku pun
kembali ke kelasku.
Malam
harinya aku menyempatkan diri membuka hasil ‘jepretan’ku tadi pagi yang sudah
ku cetak, dan membaca salah satu halaman bertanggalkan Sabtu, 25 Agustus 2012.
“Dear
diary, saat kita mencintai seseorang, apakah rasanya saat bersamanya seperti
ada angin yang berhembus? Bulan yang terlihat lebih besar di langit? Bumi yang
bergerak melambat dan waktu yang seakan-akan menjadi berhenti sejenak? Apakah
seperti itulah yang dinamakan cinta? Tadi pagi aku ngerasain hal ini, waktu Rio
datang ke kelasku. Walaupun dia datang hanya untuk menyampaikan titipan uang
festival dari guruku. Tapi dia bikin aku enggak bisa bicara
apa-apa, sepatah kata aja ‘nggak keluar dari mulutku. Semua rasa nyampur
menjadi satu. Karena itu pertama kalinya aku melihat mata indah Rio berada
tepat dihadapanku, waktu terasa berjalan melambat dan dengan sekejap aku
seperti mendengar suara emas Lionel Richie menyanyikan lagu favoritku berjudul
‘Hello’ yang terkenal dengan
keromantisannya itu seakan menjadi lagu yang mengiringi kehadirannya.”
Jika
aku boleh mengomentari halaman ini aku akan berkata bahwa dia terlalu
berlebihan menilaiku. Aku tulis saja komentarku ini di balik potret halaman
buku harian Silla dari pada kosong. Tiba-tiba handphone-ku berdering, terlihat dari layar awal ada 1
pesan.
From:
Ajeng (085647789xxx)
“Rio, aku udah nerjemahin
huruf2 itu, ternyata bener itu nama orang. Kalo menurutku sih bacanya ‘ARSYLLA
PRADITA’ itu jg kalo ga salah loh. Emangnya ada apa sih kalo boleh tau?”
Dikirim: 3 September 2012 20:25
“Arsylla? Silla bukan ya maksudnya? Bukannya Silla itu
nama adik kelasku yang tadi pagi aku tabrak? Yang waktu seusai hari festival
aku berikan uang dari bu guru itu kan?” tanyaku pada diriku sendiri seraya
memandangi cetakan foto dari halaman yang baru saja aku baca itu. Aku
tercengang atas pernyataan bahwa buku harian itu adalah milik Silla.
Semenjak
hari itu aku selalu menyempatkan untuk membaca halaman demi halaman cetakan
foto itu. Hal ini membuatku sedikit tertarik pada gadis yang sering aku juluki aneh
karena tingkah lakunya yang sering salah tingkah ketika berada dihadapanku.. Di
dalam buku hariannya halaman kedua sebelum terakhir tertulis “Jika ada yang
bisa membuatku lebih baik, aku akan berusaha keras lakukan itu di dasari dengan
cinta. Termasuk belajar lebih giat agar dia tertarik padaku. Rio tampan, aku
juga harus menjadi cantik. Rio pintar,
aku juga harus menjadi pintar. Semangat Silla!”
Tidak
terasa sekarang sudah menginjak bulan Februari, ulangan semester telah
diumumkan, seseorang bernama Silla itu ternyata benar-benar membuktikan
perkataannya. Aku dengar Silla yang biasanya menduduki peringkat 30 mengalami
perubahan yang sangat-sangat pesat, sekarang dia masuk kedalam peringkat 5
besar di kelasnya. Aku kagum pada semangatnya yang membawakan hasil. ”Selamat,
kamu sebenarnya sudah berhasil menarik hatiku dari awal Silla. Aku kagum pada
semangatmu, aku yakin jika ada niat kuat, apapun bisa terwujud, cinta dapat
mengalahkan segalanya khususnya ketakutan dan kesulitan.” Aku tuliskan
kata-kata itu dibawah potret halaman buku harian Silla.
Lima
hari lagi aku akan tampil di hari ulang tahun sekolahku. Aku termasuk salah
satu personil band sekolah, ya bersama Silla juga. Dia sengaja ikut klub musik
karena ingin satu panggung denganku sepertinya. Aku adalah seorang bassis,
Ajeng berada di gitar sekaligus vocal, Adit di drum,. Oh iya, Adit adalah
sahabat karibku, sama dengan Ajeng. Sedangkan Silla, dia sebagai pianis, dia
terlihat lebih cantik hari ini mengenakan hiasan bando berwarna putih di
rambutnya yang tergerai semakin panjang. Sepertinya aku suka padanya, namun yang
ku lihat Adit terus menerus memandang Silla yang sedang melatih kelincahan jari-jarinya
menari diatas tuts piano sekolah. Tidak heran Adit suka padanya, sekarang Silla
bukan lagi terlihat sebagai gadis berwajah aneh lagi, namun sekarang karena
prestasinya yang meningkat pesat dengan wajah yang semakin putih nan cantik itu
membuatnya menjadi sangat populer di sekolah. Dia layaknya seekor ulat yang
bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu yang menawan. Jujur saja, aku lebih
menyukai Silla yang berwajah aneh, sekarang akan ada banyak sekali yang akan
menjadi sainganku untuk mendapatkannya. Tiba-tiba lamunanku buyar ketika Adit
menghampiri Silla,
“Sill, kata
Rio kamu belum punya pacar ya?” tanyanya memulai pembicaraan.
“Belum.”
jawabnya singkat sambil terus bermain piano.
Dibalik
diamnya Silla aku tahu sebenarnya kata-kata itu benar-benar membuatnya kaget,
“Sama yang
ini aja lah, yang didepanmu....”
“Apa?” dia
semakin kaget dan langsung menghentikan suara denting piano yang sedang
dimainkannya itu, aku dan ajeng serentak menghentikan kegiatan yang kami
lakukan saat itu. Silla berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik lain, tapi
Adit tetap melanjutkan kata-katanya mencoba untuk merayu “Kurang apa lagi coba
aku sill? Cakep, keren, Jago main drum, bisa main piano ya bisa-bisaan lah,
nyanyi ya enggak jelek-jelek amat juga koq, mm... apa lagi yah?”
“Rajin
ibadah lagi....” sahut Ajeng.
“nah iya tuh
bener, pulsa handphone ya ada lah
buat telepon atau sekedar sms kamu setiap malam, motor ya siap untuk antar atau
jemput kemanapun kamu pergi. Nah, kurang apalagi aku coba Silla?”
“Hehe kurang
apa yah kak?” Silla mulai kebingungan.
“Kamu
pikirin ke masa depan juga loh sill, nanti kita bisa bikin klub musik sendiri
yang namanya ‘ARSYLLA n’ ADITYA SAPUTRA’ hehe bagus kan?”
“ah jelek.
Kepanjangan!” Sahutku dengan keras.
“namamu udah
nyangkut didalam namanya Silla juga tau” jawab Ajeng lagi.
“eh iya nah
tuh kan udah cocok, yo wis... ‘ARSYLLA PRADITYA’ nah asyik gak tuh?” kata Adit,
“gimana? Kamu mau jadi pacarku kan?”
Silla terdiam,
raut wajahnya tidak dapat menyembunyikan kebingungan yang ada di benaknya. Aku
benar-benar mengerti perasaan Silla sekarang.
“enggak di
jawab, berarti aku anggap iya.” Kata Adit membuat keputusan.
Suasana di
ruangan musik ini pun menjadi hening. Lalu Aku memutuskan untuk pergi ke luar
meninggalkan mereka bertiga, rasanya tidak sanggup melihat mereka bersama, tapi
apakah Silla tahu kalau disini hatiku ini sedang terluka? Jika saja aku tidak
terlambat mengungkapkan isi hatiku ini pasti aku sudah merasa sebahagia Adit sekarang.
Saat ini aku
benar-benar yakin akan kebenaran kalimat-kalimat Silla di buku harian, bahwa
cinta itu seperti menunggu bus. Jika kita terlambat mendatanginya maka bus itu
akan pergi meninggalkan kita. Dan jika bus itu pergi meninggalkanku, aku akan
mengejar bus itu sampai dapat. Tidak ada kata terlambat, yang aku inginkan
memang sudah tak lagi sendiri namun aku akan tetap berusaha mengejar busku,
mengejar dia yang ku cinta.
Seiring
berjalannya waktu hubungan Silla dengan Adit yang ku kira berjalan dengan
baik-baik saja ternyata telah berakhir tiga hari yang lalu. Entah mengapa, aku
tidak tahu alasan Silla memutuskan hubungannya yang sudah berjalan dua bulan
itu. Yang jelas, seperti kata Silla di buku hariannya, “Ada
yang bilang, cinta itu seperti menunggu bus.”
Ya
aku semakin setuju dengan pernyataan itu, mungkin yang ada di benak Silla
adalah bus yang datang bukanlah bus yang selalu dia harapkan. Kini Silla
sendiri seperti dulu lagi, dan mungkin ini kesempatanku yang terbuka kembali
untuk menyatakan isi hatiku kepadanya. Belum sempat aku mengutarakan perasaanku
padanya, Adit menemuiku dia memintaku untuk berjanji apapun yang terjadi aku
tidak boleh memacari Silla. Aku tahu alasannya, pasti Adit akan merasa sakit
hati sekali jika aku sebagai teman baiknya berpacaran dengan gadis yang ia suka.
Aku menyetujui perjanjian itu karena aku tidak ingin kehilangan sahabatku yang
setia dari Sekolah Dasar itu. Keinginanku menjadikan Silla kekasih telah pupus.
Aku hanya mencoba fokus pada ujian sekolah yang telah berada di depan mataku,
kemudian masuk universitas dan mencari pekerjaan untuk masa depanku.
Silla adalah
seorang wanita sempurna bagiku, aku tidak akan pernah melupakannya dari
hidupku, walaupun dia belum menjadi milikku tapi dia membuatku menyadari satu
hal bahwa aku belajar untuk tidak mendapatkannya sekarang, aku ingin menunggu
sampai apa yang kuingini itu benar-benar menjadi yang terbaik untukku karena
aku yakin semua akan indah pada waktunya. Aku menuliskan sepucuk surat untuk
Silla yang hanya berisi kalimat “nantikan aku dibatas waktu, aku yakin Tuhan
membuat semua akan indah pada waktunya”, entah apakah dia mengerti atau tidak
dengan kata-kataku itu atau tidak. Aku juga mengirimkan potret halaman-halaman
buku hariannya lengkap dengan komentar-komentarku yang ku tulis dulu. Aku
letakkan semua itu di tasnya secara diam-diam.
Hari berganti hari, bulan dan tahun demi
tahun pun terus berlalu. Siapapun kita pasti punya seseorang
yang kita suka di hati yang paling dalam. Begitu pula denganku walaupun
lima tahun berlalu sudah, namun aku belum juga melupakan Silla.
Ketika aku mengingat gadis itu, dadaku terasa sesak, tapi aku ingin terus
menyukai dan mengingatnya meskipun aku tidak tahu dimana dia sekarang,
bagaimana kabarnya. Karena bagaimanapun dia adalah orang yang membuatku menjadi
seperti ini, merasakan suatu hal yang disebut “cinta” lewat buku hariannya.
Silla adalah wanita yang paling tegar yang aku kenal selain ibuku, dan
kesetiaanya menunggu dan menyukaiku selama tiga tahun di Sekolah menegah atas
meyakinkanku bahwa belum ada seseorang yang menakhlukan hatinya saat ini.
Sekarang dia
kembali lagi dalam kehidupanku, aku tak pernah membayangkan momen ini
sebelumnya. Tapi ini nyata. Dia sekarang menjadi pianist terkenal di Jakarta,
sedangkan aku bekerja sebagai manager perusahaan sebuah stasiun televisi swasta
di Jakarta. Aku bertabrakan dengan seorang gadis di persimpangan tangga di
kantorku kemudian dengan reflek aku menahannya dengan bahuku agar dia tidak
jatuh dari tangga itu. Wajahnya berada sepuluh centimeter di depan keningku.
Aku langsung berkata dalam hati “Aku
ingat hal ini pernah terjadi sebelumnya padaku saat pertama kali aku jatuh
cinta kepada Silla, namun itu sudah lama sekali dan yang bertabrakan denganku
saat ini bukan Sila, gadis yang ku tabrak adalah...” Aku menghentikan
perkataanku dalam hati dan melihat dengan jelas kearah mata coklat yang bening
itu. Mengapa dengan cepat pikiranku berisi tentang Silla sekarang?
Gadis itu
kemudian melepaskan bahuku dengan tangannya kemudian tersenyum malu. Aku
seperti tidak asing dengan senyuman itu. Siapa gadis ini?
“Kak Rio,
bagaimana kabarnya?” gadis itu memberikan tangannya kembali untuk berjabat
tangan denganku. Dan saat itu juga aku baru menyadari bahwa gadis bermata indah
itu, senyuman manis itu adalah Silla. Aku sangat senang sekali dapat bertemu
gadis yang menjadi pujaanku selama ini.
Silla kini
telah berada di sampingku. Bercanda riang dan saling berbagi cerita. Sesekali
aku memandangnya, dia kini terlihat lebih cantik, sangat sangat cantik bagaikan
seorang puteri. Hingga aku merasakan ketika seakan-akan angin berhembus pelan
menebar geraian rambutnya yang hitam lebat, kemudian waktu yang seakan-akan
bergerak lambat. Hal ini membuatku menyadari bahwa inilah saatnya, saat dimana
aku melakukan apa yang sudah menjadi keinginanku sejak dulu,
“Silla,
mungkin aku seharusnya mengatakan ini sejak awal aku menabrakmu di persimpangan
tangga sekolah dulu.” Kataku memulai pembicaraan.
Dia
mengerutkan wajahnya lalu bertanya “mengatakan apa?”
“Aku memilih
segala sesuatu sendiri, hanya beberapa yang tak bisa ku pilih. Aku tidak bisa
memilih kapan aku lahir dan kapan aku mati. Tapi sekarang aku memilih untuk
seumur hidupku, aku akan bersamamu selamanya. Maukah kau menjadi milikku?”
Hatiku lega rasanya dapat mengatakan ini, tapi tiba-tiba dia menangis. “Mengapa
kau menangis? Aku tahu aku terlambat mengatakan ini, tapi Adit...”
Silla
memotong pembicaraanku dan mengusap air matanya sambil tersenyum, “Ssttt... aku
sudah tau hal itu, sudahlah jangan disesali. Lagian memangnya siapa yang
terlambat? Aku menangis bahagia koq. Aku mau bersama Kak Rio selamanya.”
Saat itu aku
benar-benar yakin bahwa dia adalah milikku. Terimakasih Tuhan rencanamu adalah
yang terbaik, semua itu memang indah pada waktunya.